Forsaken Flame

Some love stories don't end in heartbreak. They end in blood.

"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!" Karina berteriak, suaranya parau oleh rasa takut.Tangan-tangan kasar menahan tubuhnya; satu menggenggam erat pergelangan tangannya, sementara yang lain menekan pundaknya ke tanah. Erangan jijik mereka memenuhi udara, suara tawa mereka memecah malam, terdengar seperti geraman binatang buas yang baru menemukan mangsa.Karina meronta, berusaha membebaskan dirinya. Matanya berair, kakinya menendang liar, tetapi semua usahanya sia-sia. Hingga tiba-tiba... suara dentuman keras memecah kegaduhan. Tawa mereka berhenti seketika, begitu juga dengan pandangan mereka yang kini mengarah kepada pria yang baru muncul itu...San.Hujan yang sebelumnya hanya turun perlahan berubah menjadi semakin deras, nyaris menyerupai badai kecil. Langit terasa sunyi, sementara pom bensin yang tadinya terasa kosong, kini menjadi medan perang.San berlari menghampiri mereka dengan sorot mata yang tak lagi mengenal kasih. Wajahnya basah oleh hujan, matanya yang memerah menandakan bahwa amarah telah menguasainya sepenuhnya.Tanpa sepatah kata, San menghantam pria pertama dengan tinju keras yang langsung mendarat ke wajahnya. Darah muncrat, beberapa gigi rontok, dan tubuh pria itu tumbang ke tanah tanpa bisa melawan.Pria kedua mencoba memberikan perlawanan, tetapi San tak lagi bertindak seperti manusia biasa. Dengan gerakan cepat, dia mengunci leher pria itu, membanting tubuhnya ke aspal basah hingga terdengar suara tulang patah yang memuaskan dendam dalam dirinya.Karina terpaku di tempat. Tubuhnya gemetar hebat, tetapi pandangannya tertuju ke satu arah—San. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu malam ini; setiap pukulan yang dia berikan penuh kekuatan yang mengerikan.Hujan mempertegas kesan dramatis malam itu; darah bercampur dengan air hujan yang mengalir deras, jeritan bertautan dengan gemuruh badai.Tangan San penuh luka, napasnya terengah-engah, tetapi sorot matanya tetap tajam dan berbahaya. Dia tidak berhenti; dengan brutal ia menyerang gerombolan itu satu persatu, tanpa belas kasihan, tanpa jeda.Karina melihat jalan untuk bebas—celah di tengah kekacauan tersebut mulai terlihat. Tanpa berpikir panjang, ia pun melarikan diri. Berlari secepat mungkin ke arah jalan utama. Langkah-langkahnya terasa berat karena tanah becek dan tubuhnya yang masih gemetar ketakutan. Napasnya terputus-putus, setiap detak jantung menggema di telinganya.Karina hampir berhasil menyelamatkan diri. Namun sebuah suara menyayat malam, membuat tubuhnya tersentak."AARRGH!!"Karina terpaku di tempat. Suara San—teriakan yang memilukan—memecah keheningan langit malam. Ia berbalik, dan seketika pandangannya terhenti pada pemandangan yang menggetarkan hatinya.Salah satu pria dari gerombolan itu meluncurkan pisau tepat ke punggung San. Satu tusukan... lalu tusukan kedua... kemudian ketiga."San!" Karina menjerit putus asa, matanya membesar dalam keterkejutan, sementara air matanya langsung mengalir tanpa kendali.San terhuyung, tubuhnya yang sempoyongan masih mempertahankan posisi berdiri. Ia memalingkan wajahnya ke arah Karina, dan bibirnya melengkung dalam senyuman lemah. "Pergi, Karina..." suaranya serak namun penuh kelembutan.Dengan sisa kekuatannya, San melancarkan pukulan keras ke salah satu pria yang mendekatinya. Tinju, lutut, dan siku menjadi senjatanya. Pria itu langsung tumbang. Tapi gerakannya tak lagi secepat sebelumnya; darah berceceran, meresap hingga membanjiri pakaian yang dikenakannya.Karina berlari kembali mendekat. Ia tahu dirinya tak bisa meninggalkan pria itu begitu saja. Rasa takut mencengkeramnya, tapi hatinya telah bertekad bulat. Ia tak peduli lagi pada bahaya yang mengancam."San!!!" Karina memekik sekuat tenaga.Namun malapetaka lain segera datang—dua pria dari kamar 106 yang dari tadi tidak kelihatan muncul dari balik truk yang terparkir tak jauh dari mereka.Dua pria itu menangkap Karina dari kedua sisi, tangan mereka mencengkeramnya dengan kuat. Salah seorang dari mereka tersenyum licik sambil menarik rambut Karina ke belakang, "Kita belum selesai, Manis!"San memalingkan wajah lagi, kali ini menuju sumber suara yang berasal dari Karina. Melihat wanita itu berusaha mati-matian melepaskan diri. Tapi, justru itulah kekeliruannya.Tusukan berikutnya datang tanpa ampun—keempat... kelima... keenam... ke..."AARRRRGHH!!"San terjatuh berlutut di tanah, tubuhnya kehilangan daya untuk melawan. Matanya tetap tertuju pada Karina, dan mulutnya mulai mengeluarkan semburan darah yang mengerikan."San!!! Tolong hentikan!!" Karina menjerit disertai amarah sekaligus kepedihan. Tubuhnya yang terperangkap mencoba melawan sekuat tenaga dari tangan para pria itu hingga ia hampir kehilangan kontrol.Namun... dari kejauhan, sebuah sirine meraung melintasi malam. Semuanya berhenti sesaat. Gerombolan itu langsung panik."Polisi, brengsek!"Mereka melepaskan Karina tanpa pikir panjang, kemudian melarikan diri ke berbagai arah; ada yang melompati pagar, ada pula yang memilih kabur dengan mobil, meninggalkan keempat tubuh teman mereka yang masih tergeletak tak sadarkan diri.Seketika suasana kacau berubah menjadi senyap. Karina jatuh ke tanah dengan tubuh gemetar hebat sebelum ia segera merangkak menuju San—yang kini terkapar tak berdaya di antara genangan air dan darah."San... San..." bisiknya pelan sembari mengangkat kepala pria itu ke pangkuannya. "Jangan pejamkan matamu. Kumohon... Aku akan meminta mereka untuk memanggilkan ambulans. Bertahanlah..."Mata San perlahan mencoba menatapnya sekali lagi. Pandangannya buram; dunia di hadapannya mulai kehilangan warna. Tapi senyum hangat itu belum pudar—lembut seperti sebelumnya."Aku mencintaimu, Karina... selalu..." suara lirihnya menusuk batin Karina. San mengangkat tangan dengan perlahan, seolah ingin menyentuh pipinya. Namun sebelum jemari itu berhasil mencapai puncaknya, tangan itu sudah jatuh lemas ke samping tubuhnya.Karina mengguncang tubuhnya dengan desperasi yang mampu menggetarkan hati siapa pun yang menyaksikannya. "San...? San?!" gumamnya lirih bercampur kepanikan. "Jangan pergi... kumohon... jangan pergi... San!!!"Tapi tak ada tanggapan lagi dari San. Tubuhnya telah kehilangan semua kehangatan yang pernah ada.Malam pun kembali tenggelam dalam kesunyian, membawa serta kisah duka di bawah langit yang kusam.***Cahaya merah dan biru dari mobil polisi memantul di genangan air bercampur darah. Para petugas sibuk mengamankan lokasi yang dipenuhi suara sirine dan desahan hujan.Di antara kekacauan itu, Karina duduk di tanah berkerikil. Tubuhnya lunglai, memeluk erat tubuh San yang sudah dingin. Pakaiannya kotor, wajahnya basah oleh hujan, air mata membanjiri pipinya. Tangannya terus mencengkeram dada pria yang pernah ia sayangi, kemudian ia benci, dan sekarang... Karina benar-benar telah kehilangannya.Seorang polisi menghampiri, berjongkok di hadapannya. Suaranya lembut, mencoba menjangkau Karina yang tampak tenggelam dalam dunianya sendiri. "Nona... kami harus memindahkan tubuhnya."Karina tetap diam. Matanya kosong, seolah melihat tetapi tidak benar-benar menanggapi. Hanya ada tangannya yang gemetar, tapi masih menggenggam erat lengan San dengan harapan bahwa keajaiban akan terjadi. Seolah San akan kembali bernapas lagi.Lalu, dari kejauhan terdengar sebuah suara yang memecah semua kebisingan: sirine, langkah berat para petugas, dan riuh hujan."Karina!" Suara itu membuatnya menoleh. Rasa lelah menghantam tubuhnya, membuatnya lemas seketika.Jeno berlari mendekat dengan napas terengah, pakaian basah oleh hujan. Tanpa ragu, ia jatuh berlutut di samping Karina dan segera merangkul tubuhnya. "Karina... Ya Tuhan... apa yang terjadi?" suaranya serak, penuh kepanikan.Karina masih bungkam. Air matanya kembali pecah, mengalir deras di bahu Jeno. Tangisnya hening, tapi tubuhnya gemetar hebat. Jeritan batinnya tetap tak terlontar—terperangkap di dalam dirinya sendiri.Jeno mengalihkan pandangan, menatap tubuh San yang berlumuran darah di pangkuan Karina. "Siapa yang melakukan ini...? Apa dia...?"Karina menggeleng pelan, lemah. Napasnya tertahan sebelum akhirnya berhasil berujar lirih, "...Dia menyelamatkanku."Tatapan Jeno terhenti pada wajah Karina. Di sana, dalam sorot mata yang redup dan penuh luka, ia melihat ketakutan serta trauma yang tidak akan hilang hanya dengan pelukan sederhana.Jeno menghela napas panjang, lalu mengusap rambut Karina perlahan dalam upaya kecil untuk menenangkan wanita itu agar tidak runtuh sepenuhnya. "Kau aman sekarang," bisiknya lirih. "Aku di sini. Aku akan membawamu pergi dari tempat ini."Namun Karina justru menatap mata Jeno dengan tajam, penuh rasa kehilangan. "Jeno... semua ini... gak akan pernah bisa diperbaiki lagi."Jeno menggenggam tangan Karina kuat-kuat, mencoba menguatkannya meski tahu bahwa kata-katanya hanya akan menyembuhkannya sekilas. "Tapi kau masih hidup. Itu yang penting.""Tapi, San mati gara-gara aku..." Suara Karina menggema dalam kepedihan yang membuat kata-katanya hampir tak tertangkap jelas. "...dan aku bahkan gak tahu... apakah aku benar-benar layak diselamatkan."Jeno kembali merangkul tubuh Karina, memeluknya erat. "Jangan bilang begitu, Karina. Jangan menyalahkan dirimu... ini bukan salahmu."Bukan salahku...?

Cahaya senja yang hangat menembus jendela besar toko buku kecil di tengah kota. Di sana, Karina duduk bersila di lantai, tepat di depan rak fiksi klasik, dengan buku The Bell Jar  di tangannya. Namun matanya sering kali teralihkan, mencuri pandang ke arah lain.Di seberang rak tempatnya duduk, berdiri seorang pria. Tinggi, mengenakan kacamata dan kaos hitam, dengan rambut gelap yang jatuh acak menutupi sebagian dahinya. Sosok itu terlihat serius membaca buku di tangannya, sepenuhnya tak menyadari bahwa ia sedang diamati.San.Karina yang saat itu masih polos dan haus akan hal baru, tak bisa mengalihkan perhatian. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu—dia memancarkan aura misterius, jauh dari kesan mudah didekati. Namun justru itulah yang membuat Karina semakin penasaran.Di antara keberanian dan keraguan, ia akhirnya memberanikan diri untuk memecah kebisuan. "Kamu tahu... buku itu ending-nya ngegantung. Siap-siap kecewa," katanya sembari mencoba terdengar santai.San menoleh perlahan. Wajahnya terlihat biasa—nyaris tanpa ekspresi. "Oh ya? Terus kamu saranin buku apa?" balasnya singkat tanpa perubahan nada.Karina terdiam sejenak, tak menduga mendapatkan respon. Ia menunjuk ke arah rak sebelah dengan sedikit ragu. "Yang ini... ceritanya bagus banget, tapi sad ending... ya, tetep bikin nyesel juga sih. Heheh..."San tersenyum tipis. Senyuman sederhana itu seketika membuat jantung Karina berdegup tak karuan. "Kamu kayaknya suka hal-hal yang bikin nyesel, ya?" tanyanya sambil melirik ke arah Karina.Karina mengangkat bahu dengan ragu, menahan malu. "Tergantung... hasilnya nanti worth it atau enggak."***Esok harinya, pikiran Karina terus dipenuhi bayangan San. Ia mencoba mengabaikannya, tetapi gagal. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali di kampus, di lorong fakultas yang sama, tempat ia biasa lewat tanpa terlalu memerhatikan kerumunan mahasiswa lainnya.San berdiri sendirian dekat papan pengumuman, headphone tergantung santai di lehernya, ekspresi wajahnya tetap tidak berubah—dingin dan datar. Karina terhenti, matanya terpaku pada sosok itu."Itu... dia?" Debaran jantungnya meningkat drastis, wajahnya terasa panas. Giselle, sahabatnya, sibuk berbicara di sebelahnya, tapi semua suara mendadak lenyap, digantikan oleh detak keras yang memenuhi telinganya.Tanpa berpikir panjang, Karina bergerak cepat menghampiri San dengan langkah kecil dan tergesa. "Hei... kita pernah ketemu sebelumnya, kan? Di toko buku?"San menoleh perlahan, tatapannya sama seperti yang Karina ingat—tenang dan seolah tak peduli. "Iya."Jawabannya pendek, tanpa emosi. Namun bukannya membuat Karina mundur, ia justru semakin penasaran. "Kamu... satu kampus juga?"San mengangguk singkat tanpa berkata apa-apa lagi. Lalu dia melangkah pergi dengan santai, tapi sebelum benar-benar menghilang dari pandangan, ia berhenti sejenak, menoleh sekilas dengan sorot mata kosong yang entah kenapa mengandung aura menusuk. "Tolong jangan terlalu dekat... nanti kamu bakal menyesal."Karina hanya bisa mengerutkan dahi, tidak memahami apa maksudnya. Tetapi alih-alih mundur atau merasa tersinggung, ia malah tertawa kecil dan semakin ingin tahu tentang pria itu.Ia tidak tahu—kalimat San hari itu bukanlah sebuah godaan untuk mendekat, melainkan sebuah peringatan yang seharusnya didengar baik-baik.Ia tidak tahu—dengan memilih mengejar San, dirinya tengah berlari menuju sesuatu yang mungkin akan menjadi mimpi buruknya sendiri.***Hujan seperti hendak mengguyur sore itu, menyelimuti taman kampus dengan udara dingin. Karina duduk di bangku taman, buku di pangkuannya terbuka, tetapi pandangannya kosong.Pertemuan di toko buku tempo hari, ditambah ucapan dingin San di lorong kampus, seolah membekas dalam pikirannya. Sosok pria itu terus menghantui ingatannya.Dan semesta seakan tak lelah mempermainkan hati Karina, karena pria itu muncul lagi.San.Pria itu duduk beberapa meter darinya. Dia memasang earphone dan membiarkan pandangannya tenggelam dalam kelabu langit yang murung. Masih dengan tatapan kosong, seperti dunia tak pantas mendapat perhatiannya.Sementara Karina menggigit bibir bawahnya, perasaan ragu dan penasaran bercampur menjadi satu. Saat itu, logikanya kalah oleh rasa ingin tahu yang terus menghimpit.Dengan keberanian yang dikumpulkan selama beberapa detik, Karina melangkah menghampiri. "Hei... kamu tahu nggak, kamu sering banget nongol tiap aku lagi sendirian?" ucapnya, nada suaranya berusaha terdengar santai.San menoleh perlahan. Alisnya terangkat sedikit, senyum tipis mengintip di sudut bibirnya—nyaris tak terlihat, tapi cukup mengalihkan perhatian. "Atau mungkin kamu yang kebanyakan mikirin aku?" balas San ringan, entah bercanda atau serius.Karina tersentak. Wajahnya langsung memanas tanpa bisa dikendalikan, sementara San kembali memandang langit, seolah tak pernah mengucapkan kata-kata yang bisa membuat jantung lawan bicaranya berdegup lebih cepat.Akhirnya Karina duduk di sebelah pria itu, menjaga jarak secukupnya meski rasa ingin tahunya semakin meningkat. "Aku cuma mau kenalan sama kamu. Nggak ada maksud aneh-aneh kok," katanya mencoba meyakinkan."Aku udah bilang, nanti kamu bakal menyesal," sahut San tanpa sedikit pun emosi."Sayangnya, aku ini tipe yang keras kepala."San tertawa kecil—suara yang dalam dan singkat, namun cukup untuk membuat jantung Karina kembali berdebar lebih cepat dari biasanya.Percakapan mereka semakin panjang hari itu. Mereka berbincang tentang musik, buku, dan hal-hal sepele yang justru membuat Karina merasa yakin bahwa di balik sikap dingin dan tatapan kosong milik San, ada sesuatu yang lebih dalam... yang mungkin pria itu berusaha mati-matian untuk menyembunyikannya.Hari demi hari hubungan mereka semakin dekat. Nongkrong bersama menjadi kebiasaan baru. San bergerak seperti bayangan—ia kerap muncul tiba-tiba di kantin, perpustakaan, bahkan kadang menemani Karina yang saat itu masih menunggu jemputan pulang. Kehadirannya terasa intens, nyaris tak terhindarkan.Namun ada satu hal yang tak disadari Karina saat itu: hubungannya dengan San bukan sekadar rasa ingin tahu biasa—pria itu diam-diam mengawasi setiap langkahnya. Gerak-geriknya dihafal dengan hati-hati. Napasnya dihitung, tatapan matanya dipelajari.Karina sempat berpikir bahwa dirinya sedang jatuh cinta. Kenyataannya, ia perlahan terperangkap dalam cengkeraman seseorang yang menyamarkan cinta dengan obsesinya.***Siang itu, suasana kampus penuh dengan hiruk-pikuk mahasiswa. Di lapangan belakang, beberapa mahasiswa berkumpul di tangga gedung, menghabiskan waktu dengan obrolan santai.Diantaranya adalah Icarus Ming, alias Mingi yang tertawa terbahak-bahak sambil menggoda para mahasiswi yang melintas, serta Woo William Young, alias Wooyoung yang sibuk ngerumpi soal drama percintaan terbaru. Dan di tengah kelompok itu, ada San.San duduk dengan santai bersandar di tembok, mengenakan hoodie hitam kebanggaannya seperti biasa. Headphone tergantung di lehernya, sementara raut wajahnya tampak malas, namun entah kenapa tetap berhasil menarik perhatian Karina.Tatapan Karina terus tertuju padanya, seolah ada magnet tak kasat mata yang menahan pandangannya."Kattherina Loraine! Karina! Kau serius? Jangan bodoh!" seru Giselle dengan nada panik sambil meraih tangan Karina yang baru saja berniat melangkah maju. "Ngapain sih? Dia itu... aneh, dingin, dan menyeramkan. Bagaimana kalau nanti ditolak?" Giselle terus mencoba menghentikannya.Karina hanya tersenyum tipis tanpa berpaling dari San. "Aku udah capek nunggu dia sadar duluan. Kalau terus nungguin dia, yang ada aku bakal lulus lebih dulu sebelum ada hasil."Giselle nyaris putus asa melihat tekad sahabatnya itu. Tanpa ragu sedikit pun, Karina melangkah maju dengan langkah tegas, meskipun jantungnya berdegup seakan ingin melompat keluar.Tatapan teman-teman San perlahan beralih ke arahnya. Melihat Karina mendekat, Mingi tak membuang kesempatan untuk menggoda. "Eh, ada mahasiswi cantik nyasar ke sini? Lagi nyari siapa?"San yang awalnya tampak enggan membuka mata akhirnya melirik dengan malas. Tapi, begitu Karina berhenti tepat di depannya, suasana mendadak hening. Teman-temannya terpaku, termasuk San yang mengernyitkan alis dengan ekspresi bingung.Karina mengatur napas dalam-dalam. Dengan suara yang mantap, ia menyampaikan sesuatu yang membuat seluruh kelompok membeku."Sandriel Crowe... Aku suka kamu."Adegan itu seketika menjadi pusat perhatian. Mingi membuka mulut lebar hingga nyaris tak percaya; Wooyoung tersedak air minumnya sendiri akibat kaget; sedangkan di belakang Karina, Giselle terlihat siap pingsan kapan saja.San hanya menundukkan sedikit kepala, menatap Karina dengan tajam. Namun anehnya, senyuman tipis mulai terlihat di sudut bibirnya.Keheningan singkat menyelimuti ruangan sebelum tawa kecil San menggema, mencairkan suasana. "Berani banget kamu," katanya, sambil menatap Karina dengan ekspresi setengah heran.Karina hanya mengangguk perlahan, bibirnya melengkung membentuk senyum yang sedikit kaku. "Aku udah lama mikirin ini, tapi semakin aku tunda, ujung-ujungnya malah bikin aku stres sendiri," jawabnya jujur.Wooyoung yang sejak tadi mengamati percakapan itu langsung menyelipkan ledekannya. "Kau yakin? Dia itu susah banget ditaklukkan."Tapi Karina tak goyah. "Aku juga bukan tipe yang gampang nyerah," balasnya sambil membulatkan tekad.San berdiri dengan santai, tiba-tiba menyusun langkahnya pelan. Tinggi badannya memaksa Karina sedikit mendongak untuk menatap wajahnya. Seketika semua mata di ruangan terfokus pada mereka berdua.San mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya rendah, namun seperti menancap langsung ke hati. "Jangan salahin aku, kalau nantinya kamu benar-benar nyesel, udah suka sama aku."Karina tersenyum kecil meskipun dadanya bergemuruh hebat. "Nyesel?" ia mengulang pelan, lalu melanjutkan dengan nada penuh tantangan. "Aku malah penasaran seberapa parah kamu bisa bikin aku gila."San tertawa singkat mendengar ucapan itu, matanya memancarkan kilatan aneh yang tak bisa diartikan Karina. Namun tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah pergi terlebih dulu.Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu gedung, San sempat menoleh kembali. Tatapan matanya yang ia berikan saat itu membuat Karina bingung—tatapan yang baru akan ia pahami nantinya."Kamu yang mulai, Karina... jangan coba-coba kabur nanti."Saat itu Karina hanya bisa tersenyum kecil tanpa benar-benar mengerti maksud dari ucapan San.Namun detik berikutnya, matanya berbinar ketika Giselle menghampirinya penuh rasa ingin tahu. "Jadi, dia resmi pacarmu sekarang?" tanyanya langsung dengan nada setengah bercanda.Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Karina meledak dalam euforia, memekik pelan sambil melompat-lompat kegirangan, seraya menarik Giselle untuk ikut merayakan pencapaian istimewa itu—pernyataan cintanya berhasil.

Hari itu, kampus terasa sepi tanpa kehadiran San. Biasanya, meskipun ia datang terlambat, Karina pasti mendapat kabar—minimal balasan chat singkat. Namun, hari ini berbeda. Tidak ada pesan. Semua terasa hampa.Karina menghabiskan waktu dengan perasaan gelisah. Jarinya terus-menerus menyentuh layar ponsel, berharap ada notifikasi masuk, tetapi layar tetap sunyi.Akhirnya, rasa khawatir memaksanya mengambil tindakan. Ia menuju kantin, berharap menemukan seseorang yang bisa memberinya petunjuk tentang keberadaan kekasihnya. "Wooyoung, kau tau alamat rumahnya San?" tanyanya tegas.Wooyoung yang tengah berbincang santai dengan Mingi langsung melirik ke arahnya, terlihat bingung sekaligus kaget. "Hah? Kenapa emangnya? Bukannya dia—""Dia nggak nge-chat aku seharian. Aku khawatir," potong Karina dengan tatapan penuh tuntutan.Wooyoung terlihat ragu, sesekali ia melirik ke arah Mingi, tetapi akhirnya menyerah pada sorot mata Karina yang tak mau kompromi. "Jangan bilang-bilang ke dia kalau aku yang kasih tahu, oke?" katanya pelan.Karina mengangguk cepat, mencatat alamat itu di ponselnya, lalu bergegas mencari ojek online yang akan membawanya ke sana.***Rumah itu kecil dan tampak tua; dindingnya pun sudah mulai mengelupas. Sangat berbeda dari kesan San yang selalu terlihat kuat, dingin, dan tak pernah menunjukkan sisi rapuhnya.Jantung Karina berdegup semakin cepat ketika ia mendengar suara bentakan keras dari dalam rumah. Dengan hati-hati, ia menyelinap mendekat ke jendela.Dan saat itu pandangannya tertuju pada sosok San di dalam ruangan. Wajahnya memar, sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya dengan mata merah karena amarah, tangan besarnya terangkat tinggi. "Sudah berapa kali ayah bilang padamu, San?! Jangan seperti itu!" Bentakan pria itu menggema di ruangan.San hanya diam. Wajahnya datar, sementara darah masih mengalir dari bibirnya. Matanya terlihat kosong—dingin dan tanpa emosi.Karina merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Ia tak bisa lagi menahan diri.Pintu rumah yang tak terkunci itu terbuka dengan keras saat Karina melangkah masuk tanpa berpikir panjang. Ia langsung berlari mendekati San dan merentangkan tangan. "Tolong, berhenti... Jangan sakiti dia!" ucapnya dengan suara bergetar.Pria paruh baya itu terkejut melihat kehadiran Karina. Tangannya yang telah terangkat tinggi perlahan turun, sementara wajahnya mengeras menatap sosok perempuan yang bersungguh-sungguh melindungi putranya.San sendiri tampak terpana, tubuhnya kaku dan matanya melebar. Seolah ia masih tak percaya Karina benar-benar berada di hadapannya.Tatapan ayah San berubah dingin, hampir tak berperasaan. "Jauhi anakku.""Apa...?" Karina menghela napas gugup, tetap berdiri di depan San dengan sikap penuh perlindungan."Kau tidak pantas bersamanya," ucap pria paruh baya itu lirih namun menusuk, lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja.Suara pintu yang dibanting dengan kasar membuat Karina tersentak kaget. Namun, suasana segera berubah menjadi sunyi.San terdiam, pandangannya kosong seakan kehilangan arah, sementara tubuhnya sedikit bergetar tertahan.Karina berbalik dan memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat, suaranya terdengar lirih tetapi penuh dengan tekad. "Aku nggak peduli, San. Aku bakal tetap di sini, apapun yang terjadi..."San tidak segera menjawab. Tapi perlahan, ia membalas pelukan Karina, genggamannya begitu erat, seakan takut kalau wanita itu akan pergi dan meninggalkannya sendirian.Di balik semua sikap tegas dan kuat yang selama ini San tunjukkan, Karina mulai memahami... ada luka mendalam yang selama ini dia sembunyikan. Luka yang tak pernah dia biarkan orang lain tahu.Dan mungkin... di sinilah, Karina mulai jatuh cinta semakin dalam kepada pria yang akan menjadi mimpi buruknya.***Langit semakin gelap, hujan deras di luar menambah suasana muram yang menyelimuti malam itu. Di dalam kamar kecil yang temaram, Karina duduk bersimpuh di lantai, telaten merawat sudut bibir San yang terluka. Berkali-kali ia mengganti tisu basah yang sudah penuh darah, namun San tetap diam, pandangannya kosong seperti jiwa yang tersesat.Karina menarik napas dalam-dalam, jemarinya yang gemetar perlahan menyentuh pelipis San yang membengkak. Suara Karina pecah saat berusaha berbicara. "Kenapa kamu gak pernah cerita, San..." lirihnya, seolah mempertanyakan semua rahasia yang terlalu lama terkubur.San hanya menoleh sedikit, matanya menatap tajam. Namun, dalam tatapan itu tersirat luka mendalam yang ia sembunyikan dan tak mau ia ucapkan.Ketika Karina menggulung lengan sweater milik San, ia terpaku melihat apa yang tersingkap di balik kain itu. Lengan San penuh dengan bekas memar, bercampur warna ungu, merah, hingga lebam biru yang menghitam. Ada pula jejak panjang menyerupai bekas sabetan keras.Karina terdiam sesaat, napasnya tercekat. "Apa semua ini...?" tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar.San mencoba menarik kembali lengan bajunya untuk menutupi, namun Karina segera mencekal tangannya. "Jangan bohong lagi, San. Aku perlu tahu," katanya sambil menarik sweater itu lebih jauh ke atas.Saat tubuh San terpapar sepenuhnya di hadapan Karina, napasnya tertahan. Dadanya berdenyut perih saat melihat betapa brutalnya luka-luka itu—bekas pukulan, cambukan, dan memar-memar lama yang belum sepenuhnya sembuh dan hilang.Tubuh pria itu seperti kanvas yang dipenuhi jejak-jejak penderitaan. Karina menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar. Matanya mulai memanas, sementara rasa pedih menjalar hingga ke lubuk hatinya.Kini semuanya terjawab. Kenapa San akhir-akhir ini selalu memakai pakaian berlengan panjang; kenapa dia berusaha menutupi dirinya. Luka itu bukan sekadar fisik. Pria itu sudah lama hancur dari dalam, dan dia sangat pintar menyembunyikannya.Air mata Karina akhirnya tak terbendung, setetes mengalir pelan membasahi wajahnya. Dengan hati-hati, ia meraba luka di dada San, merasakan permukaan kasar dari kehidupan kelam yang dilewatinya.***Suasana kamar kian redup diterangi cahaya lampu kuning temaram, diiringi gemuruh hujan di luar yang semakin deras.San menatap Karina dalam diam untuk waktu yang cukup lama, ekspresinya datar seolah tak ingin menunjukkan apa-apa, namun di balik matanya tampak retakan kecil—sebuah kilasan emosi yang tak dapat ia kendalikan.Karina tak mampu lagi menahan gejolak emosinya. Ia menarik wajah San mendekat dengan pelan dan ragu. Hatinya bergemuruh oleh perasaan campur aduk—seperti ada dorongan aneh yang menguasai dirinya."Maaf..." bisik Karina pelan sebelum akhirnya bibirnya menyentuh bibir San, memberikan ciuman yang dipenuhi ketakutan sekaligus hasrat cinta yang mendalam.San tidak langsung membalas ciuman itu; tubuhnya sempat menegang. Namun, selang beberapa detik kemudian, ia menggenggam pinggang Karina dan menariknya lebih dekat.Ciuman mereka terasa lembut tetapi penuh dengan kepedihan yang mencengkeram hati—hasrat yang selama ini terkubur begitu dalam akhirnya meledak perlahan. Tubuh Karina jatuh bersandar di dada San.Yang diinginkan pikirannya saat itu hanyalah berusaha meredakan luka-luka yang telah lama menyelimuti San. Meski ia menyadari bahwa luka yang paling besar bukanlah yang tampak di tubuh pria itu; melainkan jauh di dalam hatinya.Suara serak San pecah dalam bisikan kecil yang begitu tajam. "Kamu tidak tau apa yang kamu mulai, Karina..."Namun Karina hanya menggeleng lemah, membalas ciuman San sekali lagi dengan perasaan rumit yang tak mampu ia pahami sepenuhnya.Malam itu akan menjadi awal dari segalanya. Tanpa Karina sadari, ia telah mengikat dirinya pada sesuatu yang gelap—hasrat yang bahkan tak pernah ia pahami.Andai waktu bisa diputar kembali... Karina ingin sekali memarahi dirinya yang dulu —gadis impulsif yang telah bertindak bodoh, padahal pria itu sudah berulang kali mencoba menghentikannya.Tapi... Kattherina Loraine—kau benar-benar gadis yang keras kepala. Kau membiarkan dirimu terbutakan dan terjerat oleh gairah. Kau lebih memilih menuruti nafsu daripada mendengarkan logika sehatmu sendiri.Kini... setiap kali mengingatnya, Karina ingin menampar wajah mahasiswi bodoh itu—yang tak tahu bahwa keputusan impulsifnya telah menyeret mereka berdua ke dalam jurang yang tak bisa ia tarik kembali.

Karina mendorong San perlahan ke ranjang. Tanpa ragu, jemarinya mulai menyusuri bekas luka di tubuh pria itu, setiap sentuhan terasa begitu lembut dan penuh perhatian.Ia membungkukkan tubuhnya, bibirnya menyentuh kulit hangat pria itu, mengecup bekas luka di sana satu per satu, seakan mencoba menghapus rasa sakit yang masih tertinggal.San menahan napas, otot-otot tubuhnya menegang merespons sensasi yang tak pernah ia alami sebelumnya. Namun Karina tak berhenti. Ia terus menuruni jalur kulit pria itu, kecupan lembutnya bergerak hingga ke perut, sampai pada batas pinggang yang masih tertutup oleh celana.Tangan Karina bergetar halus—bukan karena rasa takut, melainkan karena hasrat yang perlahan mulai menguasai dirinya. Ini bukan hal yang biasa ia lakukan; keberanian seperti ini terasa baru, terlebih memimpin dan mendominasi momen penuh keintiman yang asing—dan juga pertama kali untuknya.Namun melihat San, dengan semua luka yang melekat di tubuhnya, Karina tak bisa lagi berpikir jernih. Ia hanya ingin pria itu tahu: bahwa dirinya dicintai sepenuhnya. Bahwa tak ada sisi San—bahkan luka-lukanya—yang tak ia terima.Perlahan, tubuhnya bergerak naik kembali dengan hati-hati, bibirnya menyentuh lembut leher San. Sesekali lidahnya menggoda permukaan kulit hangat itu, sementara tangan mungilnya merayap ke belakang kepala pria itu, menariknya ke dalam ciuman intens.Ciuman itu terasa panas, dalam—penuh frustasi dan hasrat yang terpendam. Sesaat, San mencoba menolak pelan. "Berhenti... jangan, Karina," suaranya terdengar bergetar.Namun Karina tak memberinya ruang untuk melarikan diri. "Jangan sembunyikan apa pun lagi, San. Aku ingin tahu semua tentang kamu—bahkan sisi tergelapmu sekalipun," lirihnya di sela ciuman yang terus berlanjut tanpa henti.Tangan Karina kemudian bergerak lebih berani. Turun ke pinggang pria itu, lalu membuka kancing celananya perlahan. Matanya berkilatan—penuh tekad yang tak tergoyahkan.San menarik napas panjang. Tatapan matanya mulai berubah, terbakar oleh gairah yang sulit disembunyikan. "Tu-tunggu, Karina... aku tidak mau kamu menyesal nantinya..." bisiknya serak.Karina menggeleng pelan, pipinya memerah namun sorot matanya tetap tajam dan penuh keyakinan. "San! Aku nggak akan menyesal... karena aku memang menginginkanmu."Tangannya terulur dengan lembut, menyentuh tonjolan panas di balik celana San secara perlahan. Tubuh pria itu langsung menegang, otot perutnya mengeras, dan desahan berat lolos dari tenggorokannya.Napas San memburu. "K-Karina... jangan," bisiknya dengan suara berat, buru-buru menahan pergelangan tangannya. Jemarinya yang kasar menekan lembut, mencoba menghentikan gerakan nakal wanita itu.Namun, Karina justru menatapnya dengan tatapan membara bercampur gugup. Dalam hati ia bergetar—astaga... bagaimana mungkin aku bisa... Sekejap ketakutan kecil muncul, membayangkan dirinya tak akan sanggup menerimanya. Tapi rasa ingin memanjakan pria itu mengalahkan segalanya.Karina menelan ludah, mengingat sekilas artikel yang pernah ia baca—sebelum benar-benar menyatu, tubuh harus dibuat rileks. Lakukan pemanasan terlebih dahulu, supaya tidak menimbulkan rasa sakit berlebihan saat berhubungan.Jantung Karina berdebar keras. Pipinya langsung memanas hanya karena membayangkannya. “Tapi, tunggu dulu! Pemanasan? Maksudnya pemanasan apa? Masa iya harus push-up dan squat dulu?!” pikirnya panik.Tiba-tiba, Karina menarik tangannya yang masih digenggam oleh pria itu dan mengeluarkan ponselnya. San hanya bisa mengerutkan kening, menatapnya heran. “Karina? Kamu… ngapain?”Karina tak menjawab. Jemarinya sibuk mengetik cepat di layar ponsel. Begitu membaca hasil pencariannya, wajahnya seketika memerah seperti tomat. Jadi… pemanasan itu maksudnya…Ia buru-buru menutup ponselnya. Senyum kecil terbit di bibirnya, kali ini penuh tekad. Ia merangkak mendekat, tubuhnya menunduk perlahan. Sekejap kemudian, bibir Karina sudah menempel di leher San.San terkejut, tubuhnya menegang seketika. "Karina... a-apa yang—" kalimatnya terputus oleh desahan berat tertahan saat wanita itu menggigit tipis kulit lehernya dengan nakal, lalu melumerkannya dengan ciuman basah.San berusaha menarik napas panjang, namun tubuhnya justru semakin bergetar. Karina tersenyum samar, bibirnya mulai menyusuri rahang hingga telinga pria itu, menjilat cupingnya pelan. Suara erangan rendah San membuat jantungnya berdetak tak karuan—Di sini sensitif, ya?Kemudian, Karina kembali lagi ke dada bidang pria itu. Ia menciumi permukaannya dengan penuh rasa ingin tahu, sesekali ia menggigit ringan kulit di sana hingga San terisak kecil.Ketika bibirnya menyentuh salah satu puting pria itu, Karina menempelkan ciuman basah sebelum menjilatnya perlahan. Tak berhenti di situ, ia mulai mengulum dan menghisap dengan lembut. Sementara, jari lainnya bergerak mencubit manja sisi satunya.San mendesah keras, tangannya spontan meremas rambut Karina. "Haah... Karina... berhenti..." suaranya berat, putus-putus, namun tubuhnya jelas tak mampu berbohong.Apa dia mulai terangsang? Karina menatap ke atas dengan mata berkilat, bibirnya masih menempel di dada pria itu. Ia mendesis, "Sstt... biarin aku manjain kamu malam ini, San."San terengah, sulit mempercayai apa yang baru saja dilakukan oleh Karina. Tubuhnya bergetar hebat, dadanya naik-turun tak terkendali. Ia menatap wanita itu dengan mata terbelalak, penuh keterkejutan. "Ka... Karina... k-kamu..." suaranya tercekat, bibirnya bergetar. "Aku tidak menyangka... ternyata kamu bisa seliar ini."Karina yang masih menempelkan bibirnya di dada San langsung cemberut, menatapnya dari bawah dengan wajah merona. Ia mendengus pelan, lalu menggigit lagi dada pria itu sebagai bentuk protes."Aku bukan anak kecil lagi, San. Kamu pikir aku nggak tahu apa-apa soal ini?" bisiknya nakal, matanya berkilat penuh keberanian.San terdiam, tenggorokannya bergerak menelan ludah. Jemarinya masih terbenam di rambut Karina, tapi kini genggamannya lebih lembut. Ia menatap wanita itu dengan campuran heran dan takjub.Karina, yang merasa ditantang oleh tatapan San, justru semakin berani. Bibirnya turun lagi, menjilat jejak ciuman yang tadi ia tinggalkan, seolah ingin membuktikan kata-katanya."Aku mau kamu berhenti nganggep aku polos," bisik Karina serak, sambil menggesekkan hidungnya perlahan di sepanjang dada San. Nafasnya hangat, bibirnya nyaris menyentuh kulit pria itu lagi. "Aku mau kamu... sekarang."Tangan mungilnya terulur lagi, menyentuh bagian sensitif San yang masih terhalang kain dengan kelembutan yang sederhana—namun cukup untuk membuat pria itu mengeluarkan desahan berat. "Dorong aku kalau kamu benar-benar nggak mau ini, San..." bisiknya lirih, nyaris menantang.San tak sanggup lagi menahan diri—seolah menyerah pada dorongan hasrat yang tak terbendung, ia menarik Karina ke pangkuannya sebagai jawaban. Rasa sakit dari lukanya masih menggerogoti tubuhnya, tapi perlahan rasa nyeri itu memudar, tersapu oleh gairah yang tumbuh di antara mereka.Ciuman mereka semakin intens, disertai sentuhan penuh gairah dan bisikan hangat yang menyalakan api kecil di dalam dada mereka. Dan di tengah kobaran itu, mereka menemukan cara baru untuk menyembuhkan luka—melalui keberanian, melalui kehangatan, melalui cinta yang semakin liar sekaligus mendalam.***San menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang, mencoba mengatur napasnya yang masih kacau. Dada dan perutnya bergerak naik turun dengan ritme cepat. Tatapannya tertuju pada Karina yang kini berada di atas pangkuannya, setengah berlutut. Tubuh mungilnya mendominasi ruang sempit di antara mereka.Karina kembali menyentuhnya pelan, jemarinya menjelajahi setiap sudut tubuh San dengan rasa penasaran. Bahkan bekas sabetan di pinggang San ia ciumi perlahan, lidahnya sesekali bermain, membuat pria itu meringis, entah karena geli atau karena efek hasrat yang semakin tak terkendali.San memejamkan mata, menyerahkan dirinya sepenuhnya tanpa perlawanan ataupun bantahan. Setiap sentuhan Karina seperti menembus pertahanan terakhir dirinya, membawa kenikmatan sekaligus ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.San mendesah berat, kepalanya terjatuh ke sandaran, suara rendahnya pecah. "Karina... astaga..."Wanita itu hanya tersenyum kecil. Lalu dengan berani, ia menurunkan celana San perlahan, matanya sedikit membesar begitu bagian intim pria itu terbebas—setengah terangsang, besar, panjang, membuat detak jantungnya berlari kencang tak karuan.Wajah Karina memerah, namun ia tidak mundur. Tangan mungilnya terulur, menggenggamnya dengan hati-hati—merasakan berat, tekstur, dan panas yang menyengat dari sana.San hanya bisa mengerang pelan, membiarkan Karina yang memegang kendali sepenuhnya. "Pegang terus... pelan aja..." bisiknya serak, napasnya tersengal menahan gejolak yang hampir meledak.Karina mengangguk polos. Jemarinya mulai bergerak naik-turun, ritme lambat yang membuat batang panas pria itu semakin mengeras di tangannya. Rasa penasaran kembali mendorongnya, ia mulai menunduk, bibirnya menyentuh kepala sensitif itu—mencicipi, lalu mengulum perlahan, masih canggung namun penuh keingintahuan. Rasa asing membuat pipinya semakin merah, tapi tatapannya tetap terpaku pada wajah San, seolah ingin menghafal setiap reaksi pria itu.San menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan hasrat untuk membalikkan keadaan—ia ingin membiarkan Karina mengeksplor sebebasnya malam ini.Karina masih terus bermain, namun semakin lama dirinya mulai terbawa oleh suasana dan berubah liar—mulutnya menghisap cepat, lidahnya menjilat dengan berani, sementara tangannya memompa pelan di pangkal batangnya yang sudah mengeras maksimal.Desahan San terdengar semakin berat, tubuhnya gemetar tipis karena rangsangan bercampur rasa sakit di area luka-lukanya. Setelah dirasa cukup, Karina terengah, melepaskan mulutnya dengan pipi merona hebat. Nafasnya memburu, tubuhnya terasa panas seolah terbakar.San membuka mata perlahan, tertegun menatap Karina yang menanggalkan pakaiannya satu per satu, memperlihatkan kulit putih mulusnya yang berkilau di bawah cahaya remang ruangan itu."Sekarang... giliranku," bisik Karina sambil menggigit bibir.San menatapnya kaget. "Karina... kamu yakin?"Karina mengangguk pelan, wajahnya memerah. "Aku mau kamu yang jadi pertama. Aku pengen rasain kamu... semuanya."Dengan perlahan Karina duduk di atas pangkuan San lagi, kali ini ia mengarahkan tubuhnya sendiri, memosisikan batang panas pria itu ke bibir vaginanya yang rapat. Wajahnya sempat ragu sejenak karena perubahan ukuran pria itu—namun ia tetap menguatkan diri, dan menekan rasa takut itu."Aku masuk ya..." bisik Karina, suaranya kecil, namun penuh ketegasan.San memegangi pinggul wanita itu, membantu mengarahkan. Lalu dengan perlahan, batangnya mulai berusaha menembus masuk ke dalam Karina yang masih ketat, hangat, dan berdenyut hebat."Ahh... sakit..." Karina meringis, matanya terpejam rapat, tubuhnya sempat menegang. Namun San segera menghentikan gerakan, memberi waktu agar wanita itu bisa menyesuaikan diri."Pelan-pelan... jangan dipaksa..." ucap San, meski tubuhnya nyaris meledak menahan sensasi itu.Karina mengangguk, dan menggigit bibirnya. Beberapa detik ia hanya diam, mengatur napas, lalu perlahan ia mulai menurunkan pinggulnya lagi—ujung kepala itu berhasil masuk sepenuhnya, membuat Karina menjerit kecil. Air mata muncul di sudut matanya, tapi ia tetap bergerak."Karina... cukup, kita berhenti aja ya," bisik San, wajahnya penuh rasa bersalah.Karina menggeleng, napasnya terengah. Ia menggenggam tangan pria itu dengan erat. "Jangan... jangan berhenti, San. Aku mau kamu..."Akhirnya, dengan satu dorongan penuh, Karina berhasil menelan batang San ke dalam tubuhnya yang sempit—membuat keduanya saling mengisi dan merasakan. Karina terengah keras, tubuhnya gemetar, tapi senyum tipis muncul di bibirnya. "Ahhh... aku... berhasil," lirihnya, saat merasakan rasa sakit yang menusuk perut bagian bawahnya, membuat matanya kembali berair.San menahan napas, ia bisa merasakan kehangatan rapat yang melilitnya begitu ketat. Bahkan ada cairan hangat yang mengalir pelan di batangnya—darah tipis dari robeknya selaput perawan wanita itu. "Karina..." desahnya, hampir kehilangan kendali.Pandangannya terpaku pada Karina yang kini berani menaik-turunkan tubuhnya. Setiap gerakan terasa semakin dalam, semakin liar, hingga suara desahan mereka mulai memenuhi ruangan.Tubuh Karina bergetar hebat, rambutnya berantakan, keringat mengalir dan menyatu di antara kulit mereka yang saling menempel erat. Tangannya bertumpu di dada San, sementara pinggulnya naik-turun dengan ritme yang kian cepat—mengabaikan luka-luka di tubuh pria itu, membiarkan dirinya larut sepenuhnya dalam hasrat yang meledak-ledak.San menahan pinggul Karina, menuntunnya masuk lebih dalam, lebih kuat, hingga tubuh mereka saling bertubrukan, suara benturan kulit bercampur dengan erangan panas, memenuhi ruangan dengan irama yang liar."Ahhh—ahhh! Aku... aku nggak tahan lagi... San... aku mau keluar..." Karina hampir menjerit, matanya setengah terpejam. Tubuhnya tegang dan kakinya bergetar hebat.San mengangguk pelan, pinggulnya terangkat memberi dorongan terakhir. Hingga tubuh mereka sama-sama menegang, lalu dengan cepat ia menarik batangnya keluar dari dalam tubuh Karina—melepaskan cairan putih kental bercampur darah yang mengikuti tarikan itu di luar.Tubuh Karina ambruk di dada San, napasnya memburu, pipinya merona hangat. "Aku mencintaimu, San," bisiknya lirih, suaranya bergetar oleh sensasi panas yang masih meluap.San membelai lembut rambutnya, senyum samar terukir di wajah lelahnya. "Aku juga mencintaimu, Karina. Kamu milikku... selamanya," ujarnya rendah, berat dengan cinta yang manis sekaligus berbahaya.Malam itu, Karina tidak hanya memulai sesuatu. Ia resmi terjebak dalam api yang tak akan pernah bisa ia padamkan.***Beberapa bulan sebelum sidang skripsi, mereka berdua duduk di sebuah bangku taman. Udara sore terasa hangat, tetapi ada sesuatu yang dingin di antara mereka. Jari jemari Karina perlahan menyentuh tangan San, mencoba membangunkan pria itu dari lamunannya."Kamu kenapa diam aja?" tanya Karina dengan nada pelan.San menatapnya lama, seolah mencari kata-kata yang sulit ia ungkapkan. "Aku takut."Alis Karina berkerut. "Takut apa?""Takut memulai sesuatu... yang tidak bisa aku akhiri."Karina tersenyum, mencoba meredakan kegelisahan kekasihnya itu dengan optimisme yang tulus. Ia belum benar-benar memahami makna dari ucapan San, belum menyingkap pesan tersembunyi di balik suara berat itu."Jangan takut, San. Aku yakin kita bisa melewati semua rintangan itu—bersama."Saat itu, Karina percaya hubungan mereka begitu kuat, tak tergoyahkan oleh apa pun. Namun keyakinan itu justru menjadi awal dari kebutaan.Kalimat San menjadi nyata setelah kelulusan. Hubungan yang dulu dipenuhi momen manis perlahan mulai berubah; digantikan oleh kontrol, rasa curiga, dan keposesifan yang menyesakkan.Awalnya, Karina berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah tanda cinta. Namun seiring waktu, ia merasa semakin terkekang hingga sulit bernapas.Puncaknya terjadi pada suatu malam di apartemen San. Karina baru saja pulang dari wawancara kerja, tubuhnya letih, ponselnya mati karena kehabisan baterai.Namun setibanya di depan pintu, ia mendapati San sudah berdiri menunggunya, wajahnya gelap, nadanya dingin dan menakutkan. "Kamu ke mana aja? Kenapa tidak balas chat-ku?"Karina terdiam sejenak, bingung sekaligus lelah menghadapi amarah itu. "San, aku baru selesai interview. Ponselku habis baterai," jelasnya pelan, berusaha menenangkan situasi.Namun San tak mendengar alasan itu; ia sudah tenggelam dalam amarah dan kecurigaan yang membara. Tubuhnya bergerak maju, tangannya mencengkeram pinggang Karina erat—lebih menyerupai ancaman daripada pelukan."Aku sudah pernah bilang, kan? Aku tidak suka menunggu kabar darimu terlalu lama! Aku benci memikirkan hal-hal buruk! Kamu tahu aku bisa kehilangan kendali kalau sudah seperti ini, kan, Karina!" suaranya berat, penuh tekanan.Karina mundur sedikit, tangannya menekan dada San, berharap pria itu melunak. Namun suaranya sudah bergetar, terbungkus rasa takut. "San... kita nggak bisa terus kayak gini," ucapnya lirih.

San terdiam. Tatapannya tetap tajam, namun di balik itu ada semburat luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun—luka yang selama ini ia sembunyikan di balik obsesi dan kendali berlebihan terhadap Karina.Tapi bagi Karina, rasa takut sudah mulai menguasai dirinya. Ia sadar, hubungan ini telah menjadi perangkap yang menahannya tanpa jalan keluar. Yang dulu ia kejar bukan hanya cinta San... tetapi juga sisi tergelapnya, sisi yang tak pernah ia bayangkan.Dan kini, ia terjebak dalam dunia yang mereka ciptakan bersama—dunia yang semakin hari kian terasa seperti neraka tanpa akhir.Lalu segalanya kembali tenggelam dalam kegelapan.Perlahan, Karina membuka mata.Napasnya tersendat, matanya basah oleh air mata yang tak terbendung, hatinya hancur sekaligus terasa hangat.Baru kini ia menyadari...Pertemuan mereka yang biasa saja—begitu sederhana, canggung, dan manis...Ternyata menjadi titik awal dari semuanya.Awal dari cinta.Awal dari rasa sakit.

Sudah tiga hari berlalu sejak insiden di pom bensin. Karina kini tinggal di rumah Jeno. Kamar tamu tempat ia beristirahat terasa nyaman dan bersih, namun setiap malam baginya ibarat mimpi buruk yang terus berulang. Ia belum banyak berbicara—bahkan terlalu lelah untuk menangis. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan memandang kosong ke luar jendela.Jeno menunjukkan kesabaran tanpa batas. Ia tak hanya membuatkan teh hangat yang selalu dibiarkan mendingin di meja, tapi juga memastikan kamar tetap tenang dan rapi agar wanita itu bisa beristirahat.Setiap pagi, ia memeriksa luka di lengan Karina, mengganti perban di bahunya dengan hati-hati, dan tetap diam ketika wanita itu menolak untuk bicara. Kadang, ia hanya duduk di kursi di seberang tempat tidur, membaca buku dengan suara pelan agar keheningan tak terasa begitu menyiksa.Namun, perhatian fisik tak pernah cukup untuk menyembuhkan hati yang hancur. Ada bagian dari Karina yang tak bisa disentuh—bahkan oleh kesabaran sebesar Jeno.Di suatu malam yang sunyi, Karina duduk sendirian di ranjang. Tangannya menggenggam ponsel lamanya—barang yang baru saja dikembalikan kepadanya oleh polisi setelah dijadikan barang bukti. Layar ponsel menyala, memunculkan sebuah notifikasi.Satu pesan video, tersimpan sebagai draft tak terkirim. Pesan itu berasal dari San. Tangannya mulai bergetar saat ia membuka video tersebut. Layar ponsel tampak gelap selama beberapa detik sebelum akhirnya menampilkan sosok San. Video itu direkam dengan kamera dari sudut bawah, seperti direkam diam-diam di dalam kamar motel.Wajah San mencerminkan rasa lelah yang mendalam; rautnya suram, tetapi sorot matanya tetap tajam."Karina..." katanya dengan suara yang sedikit bergetar."Kalau kau menemukan video ini, kemungkinan besar aku sudah mati.""Atau mungkin aku sudah kehilanganmu... yang rasanya jauh lebih menyakitkan," lanjutnya sambil menahan tawa kecil yang terdengar kosong, nyaris tanpa rasa.Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. "Aku tahu aku mengacaukan segalanya... aku sudah terlalu sering menyakitimu. Aku obsesif, rusak. Tapi kau... kau satu-satunya alasan aku merasa hidup. Tanpamu, aku hanya tubuh yang dipenuhi luka."San menundukkan kepala dengan ekspresi berat sebelum kembali memandang langsung ke kamera. Tatapan matanya penuh ketulusan. "Karina... jika pada akhirnya aku harus menyerahkan nyawaku untuk menyelamatkanmu, aku tidak akan menganggapnya sebagai hukuman.""Itu akan menjadi hadiah. Karena aku mencintaimu, selalu... bahkan ketika aku tahu bahwa aku tidak pantas untuk itu.""Maaf karena telah menakutimu.""Maaf karena aku terlalu mencintai dengan cara yang salah.""Dan terima kasih... karena pernah memelukku... meski aku tidak layak untuk itu."Video berhenti tiba-tiba.Karina membekap mulutnya dengan tangan, tubuhnya gemetar hebat. Napasnya terasa berat dan tak teratur, lalu akhirnya pecah dalam tangisan yang keras. Untuk pertama kalinya sejak malam itu, ia menangis sejadi-jadinya—suaranya parau, tubuhnya membungkuk rapat, bergumul dalam badai emosinya. Air mata deras mengalir tanpa henti.Jeno masuk ke kamar dan melihatnya dalam keadaan seperti itu, dengan ponsel yang masih tergenggam erat di tangannya. Tanpa sepatah kata, ia duduk di sisi Karina dan memeluknya dari belakang, membiarkan wanita itu bersandar pada dirinya."Aku gak ngerti, Je..." tangis Karina melawan jeda napasnya. "Kenapa rasa sakit ini tetap ada, padahal aku udah bebas?"Seolah memahami bahwa tak semua pertanyaan membutuhkan jawaban, Jeno hanya diam. Ia mempererat pelukannya, mencoba memberikan rasa hangat yang mungkin tak akan pernah sama dengan hangat dari tubuh pria yang menciptakan rasa trauma itu.***Sejak hari itu, Karina tak lagi keluar dari kamar. Demamnya tinggi, tubuhnya terasa lemah, dan bahkan makanan yang sudah Jeno letakkan di meja kecil di samping tempat tidurnya tak tersentuh sama sekali.Jeno duduk di tepi ranjang, suaranya penuh kekhawatiran. "Karina, kamu harus makan. Tubuhmu butuh tenaga."Namun Karina hanya terdiam. Wajahnya pucat dan matanya redup. Sorot pandangannya seperti menggambarkan seseorang yang telah kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup.Hingga malam itu tiba... Karina terlelap, tubuhnya masih diliputi suhu yang tinggi. Dalam tidurnya, ia kembali bermimpi. Tapi kali ini bukan tentang kenangan lama atau kilas balik dari masa lalunya. Ia terjun ke dunia yang terlalu damai, seperti sebuah mimpi yang nyaris mustahil menjadi kenyataan.Karina melangkah perlahan di koridor kampus yang tampak begitu familiar. Matahari bersinar hangat, dedaunan berguguran, dan suara langkah kaki para mahasiswa terdengar jelas di sekelilingnya. Ia merapatkan tas ke dadanya dengan kedua tangan. Di sebelahnya, Giselle berjalan ceria seperti biasanya."Cepat, Karina! Kita terlambat!" seru Giselle sembari menarik tangannya tanpa ragu.Karina terkikik kecil. Rasanya begitu ringan—seolah tak pernah ada luka. Saat mereka memotong jalan melewati taman belakang gedung seni, Karina mendengar suara yang sangat dikenalnya.Tawa.Suara ceria Wooyoung yang disusul dengan suara Mingi. Karina menoleh mencari sumber suara itu, dan dari kejauhan ia melihat sosok pria itu.San berjalan santai bersama sahabat-sahabatnya, mengenakan hoodie gelap dengan rambut messy-nya yang seperti dulu. Tanpa ragu San ikut menoleh ke arahnya, dan mata mereka bertemu.Untuk sesaat, semua terasa seperti berhenti...Karina mulai mempercepat langkahnya sebelum akhirnya berlari ke arah San, tanpa peduli air mata yang mulai mengalir di pipinya. Dadanya terasa sesak, penuh emosi yang tak bisa ia tahan lagi."San!"San menatap Karina dengan senyum khas yang selalu membuat hatinya terasa hangat. Tanpa pikir panjang, Karina melangkah maju dan meraih tubuh pria itu, memeluknya erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. Suara tangis bercampur isak terdengar dari tenggorokannya, bahu Karina bergetar kuat di dada pria itu. “Aku rindu kamu, San... aku benar-benar merindukanmu.”San membalas pelukan itu dengan tenang—hangat, nyata, seperti dulu. “Aku tahu,” bisiknya lembut. “Aku juga.”Namun perlahan, tubuh San terasa semakin jauh—semakin ringan. Cengkeraman Karina mulai melemah, jari-jarinya berusaha menahan sesuatu yang tak bisa lagi digenggam.San menunduk, jemarinya membelai rambut Karina dengan lembut sebelum berbicara pelan. “Tapi ini belum waktumu, Karina. Kamu harus makan… kamu harus melanjutkan hidupmu.”Karina menatapnya dengan mata basah, penuh kebingungan dan ketakutan—mencari penjelasan di balik kata-kata itu. “Apa maksudmu? Aku tidak mau kembali… aku tidak bisa…”San menatap mata Karina dalam-dalam, penuh pengertian. Senyumnya tenang, menyiratkan jawaban yang selama ini Karina inginkan, meski sulit ia terima. “Jangan bilang begitu... Karina yang aku kenal adalah wanita paling kuat yang pernah aku temui. Kamu harus tetap hidup. Masih banyak hal yang perlu kamu lakukan. Bukankah kamu pernah bilang ingin punya toko bukumu sendiri?”Karina menggeleng sambil menangis, pelukannya pada tubuh San semakin erat. “Aku tidak mau... tidak tanpa kamu di sana...”San mengusap pipinya dengan lembut, jemarinya terasa dingin namun menenangkan. “Karina... jangan bilang begitu. Aku ingin kamu kejar mimpimu, oke? Aku akan menunggumu... dan kita akan bertemu lagi di kehidupan berikutnya.”Dalam pelukan terakhir mereka, San menunduk dan mengecup lembut kening Karina, sebelum sinar putih mulai menyelimuti mereka berdua. Tubuh pria itu perlahan menghilang dari pandangannya, meninggalkan gema lembut dari kata-kata terakhirnya:"Aku cinta kamu, Karina."Karina tersentak bangun. Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar berwarna putih. Rasa sakit di tubuhnya kini terasa lebih ringan. Napasnya berat—namun perlahan mulai teratur.Di sisi tempat tidur, Jeno langsung menghampirinya, suaranya campuran antara panik dan lega. “Karina?! Syukurlah kamu sadar juga!”Karina menatapnya lama, air mata mengalir pelan di wajahnya—bukan karena sakit, melainkan karena sebuah keinginan untuk kembali mencoba. Ia memeluk dirinya sendiri, masih bisa merasakan hangatnya pelukan San.“Aku akan makan, Je...” ucap Karina lirih. Lalu, dengan suara yang nyaris berbisik, ia menatap kosong ke arah jendela. “...aku akan lanjutkan hidupku, San.”

Karina belum lama kembali bekerja. Setelah melewati serangkaian kekacauan dalam hidupnya, ia butuh waktu untuk menata diri supaya bisa stabil kembali. Ia pikir, kantor adalah tempat paling netral untuk mengalihkan perhatian dan melupakan segalanya. Namun, ternyata keputusan itu... salah besar.Hari itu, saat ia sedang mengatur berkas di mejanya, suara langkah dan percakapan dari lorong luar membuatnya menghentikan aktivitasnya."Tuan William... Tuan Icarus, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir."Langkah Karina terhenti, jantungnya langsung berdegup kencang. Nama itu—terlalu familiar di telinganya. Dengan hati-hati, ia mengintip dari celah pintu, dan pandangannya langsung terpaku pada pemandangan yang tak ia sangka.Di sana, berdiri dua sosok yang tak asing baginya. Mingi—dengan setelan jas rapi dan senyum gugup yang tersungging di wajahnya. Lalu, Wooyoung—dengan rambut tertata klimis dan ekspresi terkejut di wajahnya, yang jelas tak mampu ia sembunyikan ketika tatapannya bertemu dengan Karina.Waktu seolah berhenti. Karina melangkah pelan mendekati keduanya, napasnya tersangkut di tenggorokan. Suaranya yang keluar nyaris bergetar. "Mingi... Wooyoung...?"Mingi menoleh perlahan, wajahnya kaku, matanya menyiratkan keterkejutan. Sementara Wooyoung hanya bisa menatap dengan ekspresi hampir tidak percaya, berusaha membenarkan apa yang ia lihat. "Karina... astaga..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar di tengah keramaian kantor.Untuk sesaat, mereka bertiga hanya berdiri di lorong itu—dikelilingi pegawai yang berlalu-lalang tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara tiga orang itu. Namun bagi mereka, dunia seperti menyusut, hanya diselimuti bayangan gelap yang baru-baru ini memenuhi setiap siaran berita.San.Nama itu terlintas begitu saja di kepala mereka, serempak. Bayangan wajahnya, senyumnya, bahkan nada bicaranya—semuanya kini berubah menjadi sesuatu yang kelam. Beberapa hari terakhir, berita tentang San meledak di berbagai media: tuduhan kriminal, kekerasan, penculikan, obsesi berbahaya—dan tragedi yang berujung pada petaka menjadi headline besar.Mingi dan Wooyoung sempat melihat berita itu dengan perasaan tidak enak. Saat itu, mereka masih berusaha menyangkal, berpikir semua itu mungkin hanya salah paham atau fitnah media. Tapi ketika foto-foto itu muncul—meski sudah diburamkan—mereka tahu pasti siapa wanita yang menjadi korban di berita itu.Karina.Dan sekarang, wanita itu berdiri di depan mereka. Nyata. Hidup. Tapi dengan sorot mata yang menyimpan luka-luka tak kasatmata.Mingi menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Kau... baik-baik saja?" tanyanya pelan, penuh keraguan.Karina tersenyum singkat, tapi tatapannya kosong sesaat sebelum mengangguk pelan. Kebohongan yang terlalu mudah terbaca—bagi siapa pun yang benar-benar mengenalnya.Wooyoung mencoba mencairkan suasana dengan tersenyum canggung. "Aku... nggak nyangka," ujarnya pelan, seolah kata-kata berikutnya tertahan di tenggorokan. Ia memalingkan wajah, menarik napas panjang yang terdengar berat. "Dia... bisa melakukan hal seperti itu."Mingi tak menjawab. Pandangannya menurun, matanya meredup oleh rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan. Dulu, mereka bertiga nyaris tak terpisahkan. Tertawa sampai larut malam, bertukar cerita tanpa rahasia, saling menjaga tanpa diminta. Dunia terasa lebih sederhana waktu itu.Mingi masih ingat bagaimana San dulu diam-diam memperhatikan Karina—dengan tatapan yang berbeda, tatapan yang tak pernah ia pahami. Saat itu, ia hanya mengira San mungkin orang yang tertutup, sedikit aneh, dan terlalu kaku untuk menunjukkan perasaan. Tapi tak pernah terlintas sedikit pun di kepalanya—bahkan dalam mimpi buruk terliarnya, bahwa San akan berubah menjadi sosok sekejam yang dituduhkan kepadanya di berita.***Siang itu, suasana di kafe kantor tak seramai biasanya. Hanya terdengar bunyi mesin espresso dan gumaman pelan dari beberapa karyawan yang menikmati waktu istirahat mereka. Di sudut paling pojok—tempat yang selalu luput dari keramaian—Karina duduk sendirian, menatap kosong ke arah cangkir kopinya yang sudah dingin. Tatapannya perlahan beralih ke arah pintu, pada dua sosok yang baru saja muncul.Mingi dan Wooyoung.Nama yang dulu begitu akrab di telinganya—sering disebut San di sela obrolan kecil, hingga di antara tawa-tawa mereka yang dulu terasa hangat. Dan wajah-wajah itu seperti memunculkan kembali serpihan kenangan menyenangkan yang kini terasa begitu jauh.Karina menarik napas panjang, mencoba menahan gelombang emosi yang mendadak muncul. Lalu ia berdiri, berusaha menampilkan senyum kecil yang nyaris tak sempurna. "Wooyoung, Mingi! Boleh temani aku duduk sebentar?"Keduanya sempat tertegun. Mingi menatap Wooyoung sekilas, seolah meminta konfirmasi tanpa kata, sebelum akhirnya sepakat mengangguk pelan. Mereka kemudian melangkah mendekat dan duduk di hadapan wanita itu.Sejenak, keheningan menggantung di antara mereka. Hanya suara sendok beradu dengan gelas dari meja sebelah yang terdengar.Karina akhirnya membuka suara. "Aku... nggak nyangka... bakal ketemu kalian lagi di sini." Nada suaranya lembut, tapi rapuh—seperti sedang menahan sesuatu agar tidak pecah bersama kata-katanya.Wooyoung tersenyum kecil, sedikit kikuk namun berusaha menghangatkan suasana. "Ah, jangan terlalu terkejut begitu, Karina. Kami berdua belum resmi bekerja di sini kok, cuma ikut program pertukaran sementara."Mingi langsung menyela, masih dengan semangat khasnya. "Tenang aja, Bro! Aku yakin kita bakal jadi karyawan tetap di sini," katanya, menepuk dada penuh percaya diri. Lalu, ia menatap Karina sambil menyunggingkan senyum lebar. "Lihat aja, Karina. Kami bakal bikin gebrakan besar di kantor ini. Aku yakin nanti, kau bakal bangga punya temen kayak kami!"Wooyoung hanya mampu menghela napas panjang sambil menggerakkan bola matanya dengan jengkel. "Kau lihat, kan, Karina? Dari zaman kuliah sampai sekarang pun, aku nggak pernah bisa lepas dari dia. Sumpah, capek banget."Mingi justru tertawa keras, menepuk punggung Wooyoung dengan bangga. "Itu artinya kita memang soulmate, Bro!"Karina ikut tertawa kecil. Ada kehangatan di momen itu—mengingatkannya pada masa lalu. Tidak banyak yang berubah—mereka masih sama seperti dulu. "Syukurlah... kalian berdua nggak berubah sama sekali."Tawa mereka perlahan memudar. Keheningan datang lagi, kali ini membawa beban lain yang terasa lebih berat.Mingi menatap ke dalam gelas kopinya, mengaduk perlahan seolah sedang mencari jawaban di pusaran cairan itu. Raut wajahnya tampak berat, penuh kegelisahan yang sulit disembunyikan. "Aku masih nggak habis pikir... kenapa dia bisa berubah sejauh itu? Maksudku, semua orang pasti berubah sih, tapi bukan perubahan seperti itu yang pernah kubayangkan." Ia menggeleng pelan, suaranya menurun. "Jujur aja, aku masih nggak percaya waktu pertama kali lihat berita itu muncul."Sementara Wooyoung, dengan raut wajah lelah, berusaha menegakkan tubuhnya sejenak sebelum kembali bersandar lesu di kursi. Tatapannya kosong, seperti tengah menatap bayangan masa lalu yang tak pernah bisa ia tinggalkan. "Aku kenal dia lebih lama dari siapa pun di tongkrongan kita... dan entah kenapa, aku punya feeling kalau ada sesuatu yang nggak beres dengannya," ujarnya pelan. "Kayak... ini anak udah nggak sehat dari awal. Terlepas dari wajah polos dan sikap kalemnya itu."Ucapan itu membuat Mingi menoleh, penasaran. "Hah, jadi benar dugaanku! Aku tahu waktu itu kau berusaha nutupin sesuatu!" Ia terdiam sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih berat. "Tapi aku pernah lihat sendiri... cara dia memandang Karina."Kata-katanya terhenti sesaat. Mingi menarik napas panjang, menunduk sebelum melanjutkan dengan suara yang nyaris bergetar. "Bro, maaf ya... menurutku itu bukan tatapan cinta biasa. Lebih kayak—obsesi. Waktu itu aku cuma bisa nebak-nebak, tapi aku masih berusaha mikir positif. Kupikir, ya mungkin itu cuma efek orang yang baru pertama kali bucin." Ia tersenyum pahit, matanya kosong. "Tapi siapa yang bakal menyangka... kalau itulah kenyataannya."Karina menunduk. Pandangannya jatuh pada meja, sementara tangannya gemetar saat berusaha menggenggam gelas kopinya. Beberapa detik ia hanya diam, mencari kekuatan untuk berbicara. "Aku cuma tahu... dia sering dipukuli ayahnya," ujarnya akhirnya, lirih. Air mata hampir membendung di sudut matanya. "Kupikir itu cukup buat ngerti kenapa dia berubah. Tapi ternyata... luka itu lebih dalam dari yang aku bayangkan."Mingi menutup mata sebentar, seolah berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Saat ia membuka mata lagi, senyum getir menghiasi wajahnya—senyum yang gagal menyembunyikan perasaan sesungguhnya. "Kita semua... sama sekali nggak tahu sisi gelap dia yang sebenarnya."Wooyoung tiba-tiba berbicara dengan nada yang lebih serius dan lembut. "Besok... kami akan pergi ke rumah lama San. Kau mau ikut, Karina?"Karina terdiam, tubuhnya seakan terpaku. Kata-kata itu terasa begitu mendadak dan terlalu berat untuk diterima.San.
Satu nama yang penuh konflik—pria yang pernah ia cintai, sekaligus ia takuti. Sosok yang dulu menjadi pusat dunianya, namun kini hanya meninggalkan kenangan manis sekaligus menyakitkan setelah kepergiannya.
Detik itu juga, pikiran Karina dipenuhi oleh potongan memori yang tumpang-tindih: senyum hangat San saat pertama kali mereka bertemu, tatapan dingin yang perlahan berubah menjadi ancaman, hingga amarah yang meninggalkan luka—bukan hanya di tubuh, tapi juga di hatinya. Semua muncul begitu jelas, seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan mereka.Mingi, yang memperhatikan perubahan ekspresi Karina, segera meninju pelan lengan Wooyoung. "Bro," gumamnya rendah, membuat pria itu langsung menatapnya dengan bingung.Mingi menghela napas sebelum menjelaskan, nadanya hati-hati. "Karena dia meninggal dalam kasus kriminal, pihak kepolisian masih menahan jenazahnya untuk proses autopsi dan penyelidikan. Kudengar, setelah hampir seminggu, jenazahnya baru diserahkan kembali ke keluarganya."Wooyoung berdehem pelan. "Ya... besok ada upacara terakhir sebelum lusa dikremasi. Tapi kalau ini masih terlalu berat untukmu, kau nggak harus ikut—"Karina menggeleng pelan, tangannya masih gemetar. "Aku ikut..."Mingi dan Wooyoung saling bertukar pandang, lalu mengangguk pelan, seolah memahami keputusan yang diambil oleh wanita yang duduk di hadapan mereka.Meski trauma itu masih membekas di dalam dirinya, Karina tahu bahwa bab ini harus ditutup dengan caranya sendiri.***Malam sebelum memutuskan untuk mendatangi rumah lama San, Karina sama sekali tak bisa tidur. Bayangan kelam memenuhi pikirannya—bersinggungan dengan potongan ingatan buruk dan perasaan yang belum pernah benar-benar terselesaikan.Ia tidak tahu bagaimana semuanya akan berjalan besok. Bahkan, ia sendiri tidak yakin mampu bertemu dengan keluarga San tanpa kehilangan kendali. Namun, ketika akhirnya matanya terpejam, kesadaran itu pun perlahan tenggelam ke dalam kegelapan.Dalam mimpinya, Karina berdiri di tengah ruangan kosong. Dinding-dindingnya hitam pekat, lantainya tampak retak, dan udara dingin menusuk hingga ke tulangnya. Kesunyian terasa menekan, sampai suara langkah kaki perlahan terdengar menghampirinya.Langkah itu berat namun teratur, bergema di antara dinding yang seolah hidup dan ikut bergetar mengikuti setiap hentakannya. Karina menahan napas. Ada sesuatu yang familiar dalam ritme itu—irama yang dulu selalu ia kenali, bahkan tanpa perlu melihat.San.Wajahnya masih sama seperti terakhir kali Karina melihatnya—tajam, tampan, dan mematikan dalam ketenangannya. Tatapan itu, yang dulu membuatnya jatuh cinta sekaligus meninggalkannya dalam serpihan ketakutan, kini tampak berbeda. Ada kelelahan di sana. Kekosongan. Namun di balik mata itu, Karina bisa menangkap sesuatu yang lain—penyesalan yang begitu kentara.Karina hanya diam terpaku. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang keluar. Setiap kata terasa berat, seolah tertahan di tenggorokan bersama semua perasaan yang belum sempat ia lepaskan.San menatapnya lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. Suaranya terdengar berat, namun tenang—memecah keheningan yang menekan di ruangan itu. "Kenapa kamu mau ke sana besok?" tanyanya pelan. Sorot matanya menusuk, seperti berusaha mencari jawaban yang tersembunyi di balik tatapan wanita itu. "Apa sebenarnya alasanmu, Karina?"Tubuh Karina gemetar hebat, berusaha menahan tangis yang hampir pecah. Suaranya terdengar goyah saat ia mencoba menjawab, "Aku... aku harus melihatmu untuk terakhir kalinya."San melangkah mendekatinya perlahan, setiap langkah terasa berat seakan menembus batas ruang dan waktu. "Kamu tidak perlu datang," ucapnya pelan. "Yang akan kamu temui cuma luka yang tak akan pernah sembuh... dan amarah yang tak akan pernah selesai."Air mata Karina jatuh tanpa bisa dibendung. "Aku nggak mau pergi tanpa tahu semuanya, San. Selama ini, aku pikir aku sudah mengenal kamu sepenuhnya... tapi ternyata aku salah."San mengalihkan pandangannya sesaat, lalu tersenyum samar—bukan senyum mengejek, melainkan karena teringat kembali pada bayangan kenangan mereka dulu. "Kamu masih keras kepala, ya..." ujarnya lembut, dengan nada setengah sarkastik yang justru terdengar penuh rindu. "Selalu ingin tahu semuanya. Padahal kamu tahu, Karina... apa pun yang berhubungan denganku, ujung-ujungnya hanya akan membuatmu terluka."Ia kembali menatap mata Karina. Dalam tatapan itu, tersimpan luka yang dalam, penyesalan yang mencuat, dan rahasia yang belum pernah diungkapkan. "Mungkin besok kamu bakal tahu semuanya," ucapnya pelan. "Tentang aku... tentang alasan kenapa aku menjadi seperti ini... tentang hal-hal yang selama ini aku sembunyikan."Karina terpaku di tempatnya. Bibirnya nyaris mengucapkan sesuatu, tapi suaranya tak sempat keluar—karena perlahan, sosok San mulai memudar. Bayangannya melebur ke dalam kegelapan yang menyelimuti ruangan itu."Tapi itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku mencintai kamu... dengan cara yang salah."Itulah kata-kata terakhir San sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Karina. Ketika terbangun, tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal, dan air mata masih terus mengalir membasahi pipinya.Malam itu mendadak terasa panjang, namun ada satu hal yang kini Karina tahu pasti—besok, ia harus datang. Ia harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kebenaran—apapun itu—tentang San dan akhir dari kisah mereka berdua.